Teologi Mudik

by

Wartapilihan.com – Siapa yang tidak rindu dengan kampung halaman, tempat kita dilahirkan dan dibesarkan. Semua manusia dengan fitrahnya pasti merindukan kembali kampung halaman setelah sekian lama bekerja di kota untuk mencari penghidupan.

Ya itu lah mudik atau pulang kampung untuk kembali mengenang masa masa kecil, sekedar bertatap muka dengan sanak keluarga, bersilaturahim dengan ayah ibu yang masih hidup dan setia menunggu kita kembali berkumpul dengannya walaupun hanya beberapa saat bersua dengan mereka berdua.

Namun, mudik tidak sekedar silaturahim, mengenang tempat masa kecil, mencurahkan segenap perasaan rindu, napak tilas perjalanan hidup, dan lain sebagainya. Tetapi mudik mempunyai makna yang dalam bagi kita untuk menulusuri kembali dari dimana kita dilahirkan, asal kita dari mana, lalu kita akan kemana dan kita akan membawa apa ke tempar kampung halaman.

Semua itu, menjadi pelajaran bagi kita semua akan arti penting sebuah gambaran mudik seperti kita akan mudik ke tempat yang sebenarnya yaitu kampung akherat yang abadi, tempat tinggal kita selama-lamanya.

Pernak Pernik Mudik

Beberapa hari lagi , umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri atau di Indonesia biasa disebut Lebaran. Sebelumnya menginjak hari Lebaran sebagian besar warga berbondong-bondong pulang kampung alias mudik untuk berlebaran di kampung halaman. Mereka rela bermacet-macetan berjam-jam di jalan untuk mudik supaya bisa berlebaran di kampung halaman.

Mudik sesungguhnya berasal dari kata “udik” yang berarti kampung atau desa. Maka secara umum mudik berarti balik atau ulang ke daerah asal. Tradisi ini dilakukan saban tahun. (Merdeka.com 17/7/2015).

Mendekati puasa Ramadhan, menurut beberapa catatan petugas loket kereta api. Semua tiket kereta sudah habis terjual bahkan puasa hitungan dua pekan ke depan tiket dengan tujuan pulau Jawa sudah habis dibooking oleh penumpang KA.

Lain dengan KA, begitupun dengan pesawat domestik yang melayani rute penerbangan ke berbagai penjuru Indonesia mengalami lonjakan booking tiket baik sebelum puasa tiba maupun beberapa pekan menjelang lebaran.

Lain cerita dengan pemudik yang menggunakan jalur laut. Misalnya: Pelabuhan Merak Banten, yang menjadi tempat penyebrangan menuju Lampung, Sumatra dan sekitarnya. Menjadi pemandangan mata yang sudah tidak asing dipenuhi antrian mobil, motor dan terlihat dengan membawa segala macam barang bawain.

Belum lagi para pemudik yang menggunakan Bus, mobil pribadi, sepeda motor, mudik gratis yang oleh pihak Pemerintah maupun swasta dan lain sebagainya siap memenuhi dan menghiasai sepanjang perjalanan yang dilaluinya dengan segenap barang bawaan yang diikat di motor, mobil, bahkan pemudik yang mempunyai anak dua atau tiga rela berjibaku di motor yang sempit untuk bertemu dengan sanak famili.

Bahkan kalau kita berkaca atas kejadian mudik kemarin yang luar biasa menjadi sorotan nasional dan dunia internasional yaitu Sebanyak 17 pemudik meninggal dunia selama arus mudik Lebaran sejak 29 Juni hingga 5 Juli 2016 di wilayah Kabubaten Brebes, Jawa Tengah.

Jumlah tersebut diperoleh dari data resmi Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Brebes yang dibenarkan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho. Yang telah dilaporkan Dinkes Brebes pada BPBD Brebes. “Berdasarkan laporan, korban meninggal karena sakit sebelumnya, kelelahan, dan kecelakaan lalu lintas. (Kompas 7/7/2016).

Ditambah lagi dengan cerita pemudik yang menggunakan sepeda motor, walaupun sudah dihimbau oleh Pemerintah agar tidak menggunakan motor sebagai alat transformasi mudik jarak jauh, namun masyarakat tetap menggemarinya karena dinilai hemat biaya walaupun bahaya mengintau penggunai sepeda motor.

Selain itu, dengan memakai sepeda motor untuk mudik jarak yang lumayan jauh, masyarakat bisa menggunakan sepeda motor untuk mobilitas di kampung yang tidak terjangkau oleh kendaraan mobil karena memang infrastruktur di desa belum semaju di kota.

Itulah tradisi masyarakat Negara berkembang termasuk Indonesia yang menggelar mudik tiap tahun walaupun hanya dengan bawaan apa adanya, tetap mudik menjadi keinginan semua orang untuk bersua dengan sanak keluarga.
Mudik tahunan pun, tidak hanya terjadi di Indonesia di beberapa negara berkembang pun terjadi yang namanya mudik seperti: India, Pakistan, Bangladesh dll. Lalu di negara maju pun sebenarnya ada istilah mudik hanya tidak popular dan secara kuantitas tidak terlalu terlihat sebagaimana yang terjadi Negara Berkembang termasuk di Indonesia.

Sisi Ketuhanan Mudik

Kegembiraan menghampiri para pemudik, akan segera bertemu dengan sanak keluarga, teman sewaktu kecil, guru ngaji alif- ba- tsa, tetangga dekat, dll tentu menjadi ajang untuk saling bersilaturahim, merekatkan ikatan yang sempat renggang, menyambung persaudaraan yang sempat putus sampai mengungjungi makam orangtua atau kerabat yang sudah meninggal terlebih dahulu.
Namun ditengah-tengah hingar bingar mudik, bagi kita yang merenungkan makna dari tradisi mudik tiap tahun, sesungguhnya mengandung sebuah ibrah yang sangat berharga untuk kita renungkan.

Pertama: tempat kerja sebagai perantauan; ibaratnya tempat perantauan bisa kita analogikan dengan Bumi yang kita huni. Bumi yang kita huni ini adalah tempat kita hidup sementara. Supaya kita bisa hidup dengan damai, maka kita harus kerja mencari bekal selama hidup di muka bumi.

Lalu pada saat yang sama, kita harus mengumpulkan segala macam perbekalan guna mempersiapkan bekal nanti diakherat. Bekal itu bisa berupa: amal shaleh, ibadah monoteisme, sedekah, berbuat baik kepada sesama, menjalankan puasa, haji, zakat, mendakwahkan Islam, jihad fisibalillah (mendidik, berdakwah, dll).

Kedua: uang atau apapun bentuknya. Adalah hasil kerja selama di perantauan untuk dibawa pulang ke kampung halaman dan biasanya sesuai tradisi bangsa Indonesia yang murah hati membagi bagikan uang kepada orangtua, adik, kakak, saudara, tetangga yang membutuhkan atau hanya sekedar uang jajan anak-anak.

Dan bentuk membagi bagikan uang itu adalah sala satu contoh dan gambaran bahwa di akherat kelak ada orang yang muflis atau merugi karena banyak hutang amal atau harta. Lalu, pada saat kita punya banyak sangkut paut dengan sesama manusia dan uang kita habis sebelum lunas, maka kesalahan orang lain diberikan kepada kita.

Ketiga: kendaraan. Kendaraan yang kita bawa pulang adalah sebuah fasilitas untuk bisa sampai kepada Allah dengan cepat. Kendaraan yang kita pakai pun tergantung menempuh lewat jalan mana. Apakah lewat tol tanpa macet dengan biaya yang mahal karena harus membayar uang tol, atau lewat jalan umum yang macet dengan resiko banyak gangguan seperti: macet, kena tilang, kena begal, ban bocor sampai terjadi tabrakan sesama pengendara.

Semua itu menggambarkan bahwa kita harus memilih jalan yang benar, jalan yang diridhoi oleh Allah, agar kita bisa selamat sampe surgaNya.

Keempat: kampung halaman. Kampung halaman adalah tempat kita hidup selamanya setelah kita merantau jauh dari kota dan kembali dengan banyak bekal. Kampung halaman menunjukkan tempat hidup abadi seperti alam akherat yang tiada akhir dengan membawa banyak bekal berupa amal shaleh tanpa ada yang menagih hutang kepada kita. II

Asep Abdurrahman (Dosen Pendidikan Islam, Univ. Muhammadiyah Tangerang dan Pengajar SMP Daarul Qur’an Internasional Tangerang)