Tiket Surga yang Tercecer, Raihlah!

by

Menemani anak-anak santri meraih ilmu adalah sebuah perjalan yang menakjubkan. Keragaman mereka adalah bukti keagungan Allah dalam proses penciptaan hambanya. Begitu luar biasa.

WartaPilihan.com, Depok—Penulis adalah ‘Guru Kalong’ di Pesantren At-Taqwa, Cilodong Depok. Guru Kalong karena datang pagi pulang petang. Beda dengan kalong beneran yang pergi petang, pulang pagi. Tidak tinggal di Pesantren seperti Ustadz-Ustadz yang mengajar disini, hanya menemani mereka untuk memahami dunia enterpreuner sekaligus berlatih bersama mengarunginya.

Melihat mereka berbinar-binar karena mengantongi penghasilan dari bisnis yang mereka rancang & jalani sendiri, ada rasa campur aduk. Ada haru, ada bangga, ada optimisme. Mereka tidak hanya tekun memahami kalam-kalam ilahi, kritis menulis tema-tema berat untuk anak seumurannya, tapi bersiap juga memandirikan financial-nya.

Bila ingin tahu kisah dari Ustadz ‘beneran’ yang bergaul dengan mereka 24 jam di Pesantren ini, berikut penuturan Dr. Muhammad Ardiansyah. Pimpinan Pondok Pesantren At-Taqwa (24 Desember 2018):

Saya punya delapan puluh lima anak. Ini pun masih berpeluang nambah lagi. Kok banyak banget, memangnya punya istri berapa? Alhamdulillah, kalau istri masih satu. Lho, kok bisa punya banyak anak? Ya, alhamdulillah. Allah sangat baik, saya diberi dua anak kandung, sisanya anak didik. Setiap hari, saya hidup bersama mereka, tinggal di pondok yang sama, makan sama dengan yang mereka makan, belajar bersama, dan berjuang bersama dalam bidang pendidikan. Meski bukan lahir dari rahim istri saya, tapi hubungan saya dan anak didik saya bukan sebatas hubungan administrasi, tapi sampai hubungan batin yang selalu dijaga.

Pernah saya ditanya, “kenapa tidak menjadi dosen? Sayang kan, sudah jadi Doktor tapi tidak mengajar di kampus”. Saya jawab, “Hidup ini punya banyak pilihan. Baik jadi dosen atau jadi guru pondok pesantren, sama-sama baik. Dosen berjuang di kampus, saya berjuang di pondok. Yang penting niatnya benar. Mudah-mudahan menjadi salah satu amal yang tidak terputus pahalanya.” Lagipula bukankah lebih baik kalau pondok pesantren dipimpin oleh seorang Doktor daripada seorang diktator atau provokator? Hehe.

Lalu bagaimana suka duka hidup di pondok pesantren. Bagi saya, tidak ada duka hidup pondok pesantren. Kenapa? Karena ini adalah salah satu mimpi saya yang Allah wujudkan jadi nyata. Meski dulu tidak tercapai hidup sebagai santri, akhirnya sekarang bisa hidup bersama santri. Kalau lelah, pastilah ada. Siapa sih di dunia ini yang tidak pernah merasakan lelah? Jangankan jadi pengasuh santri, orang yang tidur doang juga lelah, orang yang tiap hari kerjanya megang duit juga lelah. Tapi, seperti kata orang bijak, kalau lelah ini kita jalani dengan _lillah_ kan semua jadi indah dan membawa berkah. Betul apa betul?

Kalau sukanya hidup di pondok, kayaknya terlalu banyak untuk diceritakan. Kenapa? Karena di pondok ini, saya hidup bersama anak-anak yang berprestasi. Ya, semuanya anak yang berprestasi. Masa sih? Iya. Kalau kita mau ubah cara pandang kita, maka kita akan melihat anak-anak yang berprestasi. Tapi kalau salah cara pandangnya, maka kita akan memandang anak-anak itu sebagai pembangkit emosi dan penyebab frustasi.

Pada hari Ahad, 23 Desember 2018, pondok kami mengadakan acara at-Taqwa Fair. Kepada semua yang hadir saya katakan, “alhamdulillah, selama empat tahun perjalanan pondok ini, telah banyak prestasi kami capai.” Benarkah? Ya. Mari kita pahami, kalau prestasi itu bukan hanya sebatas juara ini dan itu. Bagi saya, anak-anak sudah shalat fardhu berjamaah adalah sebuah prestasi, mereka khidmah membersihkan pondok setiap hari adalah prestasi, mereka mampu menjadi panitia kegiatan seperti at-Taqwa Fair adalah prestasi, mereka tampil menjadi MC, membacakan puisi, pidato, menyanyikan lagu yang baik, sampai atraksi bela diri adalah prestasi. Kondisi seperti ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW bersabda

الناس معادن كمعادن الذهب والفضة
Manusia itu seperti barang tambang, seperti emas dan perak”.

Artinya, masing-masing memiliki kekhasan. Yang emas jangan dibiarkan menjadi perak apalagi besi karatan. Yang besi jangan dipaksa menjadi emas. Yang penting, masing-masing memiliki manfaat. Tidak perlu ada istilah anak-anak unggulan, dan anak buangan hanya karena beda pilihan minat dan bakat. Bukankah Rasulullah SAW bersabda

خير الناس أنفعهم للناس
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Jadi, prestasi itu tidak mesti ikut lomba dan mengalahkan orang lain, tapi yang lebih penting adalah berlomba dalam kebaikan dan mengalahkan hawa nafsu yang ada di dalam diri sendiri yang coba menghalanginya.

Lalu, apakah anak-anak ini tidak punya kekurangan? Masalah kekurangan ya pasti ada. Itu manusiawi. Selain Nabi, tidak ada yang ma’shum. Rasulullah SAW sendiri mengetahui kekurangan sahabatnya, tapi yang disampaikan justru kebaikannya. Maka kita mengenal julukan _Arhamu ummati bi ummati_ (umatku yang paling sayang kepada umatku) untuk Abu Bakar al-Shiddiq, _Bab al-‘Ilmi_ (gerbangnya ilmu) untuk Ali ibn Abi Thalib, _afqahukum bil halal wa al-haram_ (orang yang paling faqih tentang halal dan haram) untuk Muadz ibn Jabar, _Saifullah al-Maslul_ (pedang Allah yang terhunus) untuk Khalid Ibn al-Walid, dan sebagainya.

Oleh karena itu, tugas kita sebagai orangtua dan guru bukan menceritakan kekurangan anak kita ke mana-mana. Itu adalah tiket-tiket surga yang harus diambil. Kalau ada anak yang masih telat shalat berjamaah, susah bangun tahajjud, kurang semangat saat kerja bakti, masih susah memahami pelajaran, dan sebagainya, maka itu adalah tugas kita untuk memperbaikinya. Katanya kan mau masuk surga, maka tiket masuk surga yang Allah siapkan ini jangan disia-siakan. Sambil terus ikhtiyar juga tak bosan berdoa. Semoga Allah SWT membuka pintu hatinya, mendapat hidayah, dan kelak akan menjadi manusia yang beradab. Karena mereka sudah menjalankan tugasnya, yaitu _thalabul ‘ilmi_ (menuntut ilmu), adapun _tahshilul ‘ilmi_ (mendapatkan ilmu) itu kan hak prerogatif Allah. Maka jangan pernah kecewa, apalagi putus asa. Dalam dunia pendidikan apa yang kita tanam hari ini, kadang baru terlihat hasilnya beberapa tahun kemudian. Tapi percayalah, Allah SWT lebih mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Seperti kata Ibn Atha’illah al-Sakandari

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء – موجبا ليأسك ، فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فما تختار لنفسك وفي الوقت الذي يريد ، لا في الوقت الذي تريد
Belum terkabulnya doa seseorang, setelah berulang-ulang berdoa penuh harapan, jangan sampai membuatnya putus asa. Sebab Allah SWT telah memberikan jaminan diterimanya doa, menurut pilihan-Nya untukmu, bukan menurut pilihanmu, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan di waktu yang engkau kehandaki.

Hari ini (23 Desember 2018) mereka pulang ke rumah. Tapi tidak liburan, hanya pindah belajar. Sebab prinsip dalam Islam itu _Robbi zidni ‘ilma._ Jadi masa liburan harus dipahami sebagai waktu untuk menambah ilmu di tempat yang berbeda. Di sini justru menariknya. Tantangan yang dihadapi pasti tidak sama dengan yang biasa dihadapi di pondok. Apapun hasilnya, masa liburan ini akan menjadi momen yang baik untuk orangtua melihat lebih dekat prestasi anaknya. Kalau hasilnya belum sesuai harapan, maka itu pun akan menjadi anugerah, karena kita mendapat pelajaran baru dalam mendidik anak kita.

Beberapa hari ke depan, pandangan mata ini akan panjang, karena ingin melihat anak-anaknya yang biasa berjalan, berlari, bersenda gurau tapi tak hadir di hadapannya. Hati ini akan merindukan jiwa-jiwa bersih yang sedang berjuang memahami ilmu, mengamalkannya agar menjadi manusia yang beradab. Padahal kalau ada di pondok, bisa saya ajak bakar-bakaran. Bisa bakar sampah, sampai bakar ayam untuk disantap bersama. Hehe. Walhasil, inilah dunia. Ada saatnya bersama, ada saatnya berpisah. Untuk anak-anak kami yang sedang pulang, selamat menikmati waktu berharga di rumah. Sampai jumpa tahun depan (januari 2019), dengan semangat baru sebagai penuntut ilmu sejati.

Semoga ada hikmah yang bisa pembaca ambil dari cerita sehari-hari yang sederhana ini. Wallahu A’lam

Abu Faris