Vonis untuk Predator Anak

by
Foto: jelasberita.com.

Seorang pemuda berprestasi yang mendapat berbagai penghargaan dalam dan luar negeri, ternyata adalah predator seksual. Hari ini di Pengadilan Negeri Balikpapan ia dijatuhi hukuman 12 tahun penjara dan denda 1 milyar.

Wartapilihan.com, Jakarta –“Sembari tetap mengapresiasi kerja aparat penegakan hukum, saya terus terang punya ekspektasi lebih tinggi daripada ‘sebatas’ 12 tahun penjara bagi terdakwa,” demikian dikatakan Seto Mulyadi, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI).

Pasalnya, UU Perlindungan Anak (revisi kedua) memuat ketentuan bahwa, sebagaimana dalam kasus kejahatan seksual yang dilakukan mantan fasilitator forum anak nasional dengan korban lebih dari 1 orang, ancaman pidananya adalah penjara minimal 10 tahun, maksimal 20 tahun, hukuman seumur hidup, hukuman mati.

“Mengacu pada angka-angka tersebut, 12 tahun yang dijatuhkan terhadap terdakwa (sekaligus tuntutan jaksa) hanya berselisih 2 tahun dari hukuman minimal. Itu satu hal,” kata lelaki yang akrab disapa Kak Seto tersebut.

Lain hal, dengan alasan yang sama, dia melanjutkan, pelaku dapat dikenakan sanksi tambahan berupa pengumuman identitas pelaku serta kebiri kimiawi. Vonis hakim ternyata juga belum memuat dua ragam pidana tambahan tersebut.

“Alhasil, saya waswas bahwa ketika angka kejahatan seksual terhadap anak bergerak laksana deret ukur, penaikan hukuman bagi predator sepertinya laksana deret hitung. Jumlah kasus membumbung, lama pemenjaraan relatif segitu-segitu saja,” ia merasa khawatir.

Lagi pula, ia merasa tidak ada efek jera yang bisa muncul dari pembukaan identitas pelaku. Sebagai perbandingan, koruptor, walau identitasnya terbuka, tetap tidak terkendala untuk menjadi wakil rakyat.

“Pun, sanksi kebiri kapan akan terealisasi? Pada tataran UU dan pernyataan Menteri saja terlihat adanya kontradiksi secara filosofis.

Belum lagi ketentuan teknisnya yang tak kunjung ada betapa pun sudah dua tahun berselang sejak UU diabsahkan,” pungkasnya.

 

Eveline Ramadhini