Warung Daging Anjing Kian Marak

by
foto:istimewa

Rratusan ekor anjing setiap hari dibantai untuk menu warung makan. Ini bukan di tempat ‘’lazim’’ seperti di Tomohon (Sulawesi Utara), atau Kupang (Nusa Tenggara Timur), atau Denpasar (Bali), melainkan di Surakarta (Solo), Jawa Tengah!

Wartapilihan.com, Solo –Tomohon memang memiliki Pasar Beriman, yang menjual produk ekstrim seperti daging anjing, ular, tikus, kelelawar, selain babi. Di Manado, Kupang, Bali, biasa orang menjual daging anjing alias RW (rintek wuuk=si bulu halus).

Tapi di Solo, wow! Hasil pengamatan Komunitas Sahabat Anjing Surakarta, terdapat sedikitnya 100 warung kuliner gukguk di Kota Solo (Solopos, 19/2/2018). Tiap hari, satu warung bisa membunuh sampai 12 ekor anjing untuk dijadikan olahan kuliner.

Menurut Ketua Sahabat Anjing Surakarta, Mustika Chendra Purnomo, komunitasnya sudah menjalankan aksi peduli anjing sejak 2012. Para aktivis itu menilai daging anjing tak wajar untuk dikonsumsi. Bagi mereka, anjing bukan termasuk hewan ternak, melainkan peliharaan yang lucu dan setia.

Selain itu, mereka tidak tahan melihat penyiksaan terhadap hewan yang dibunuh. Semua tahu, anjing hidup yang hendak diolah, dibantai dengan cara dimasukkan ke dalam karung kemudian dipukuli hingga tewas. Atau, ditenggelamkan ke sungai. Laku primitif ini selain karena praktis, juga tidak mengeluarkan darah anjing yang dianggap obat dan sumber nikmat.

Kuliner olahan daging anjing biasa disebut masakan Gukguk, sengsu (tongseng asu), wedhus balap, sate jamu, rica jamu, hingga Scoobydoo (tokoh anjing dalam serial kartun) mudah didapati di Kota Solo dan sekitarnya. Biasanya kuliner gukguk ini dijual di warung-warung tenda kaki lima di jalan-jalan besar Kota Surakarta.

Menurut peneliti Suci Handayani Harjono, sebelum tahun 2010, penjual daging anjing olahan masih ‘‘malu-malu’’. Menjualnya tidak terbuka, di lapak-lapak pedagang kaki lima yang hanya menuliskan sate jamu saja, tanpa embel-embel tulisan anjing/guk-guk apalagi gambar anjing.

‘’Sepertinya karena pedagang sungkan menjual anjing sebagai makanan yang bagi umat muslim adalah haram,’’ tulisnya di blog pribadi.

Agar tidak ‘’menjebak’’ calon konsumen, belakangan ini pemkot mewajibkan penjual menu daging anjing untuk berterus terang. Yakni mencantumkan kata daging anjing dan logo gambar binatang ini.
Menurut data Provinsi Jateng tahun 2015, konsumsi daging anjing di Solo mencapai 63 ekor perhari. Angka ini merupakan rekor konsumsi anjing di seantero Jawa Tengah (dari total konsumsi 223 ekor perhari), disusul Klaten dengan 25 ekor dan Semarang 22 ekor.

Arif Wibowo, Ketua Pusat Studi Peradaban Islam Surakarta, menilai, menu daging anjing bukan produk asli budaya Solo, bahkan Pulau Jawa. Buktinya, menu ini tidak terdapat dalam Serat Centhini, yang merupakan referensi induk menu masakan tradisional di Pulau Jawa. Serat Centhini disusun pada jaman Mataram Islam dibawah kepemimpinan Sultan Agung.

Maraknya perdagangan daging anjing di sejumlah kota di Indonesia, mendapat sorotan media internasional.

Beberapa waktu lalu, New York Times (NYT) menurunkan laporan soal tingginya permintaan daging anjing di tiga kota di Indonesia, yaitu Yogyakarta, Bali, dan Jakarta.

The Bali Animal Welfare Association memperkirakan setiap tahun ada sekitar 70 ribu ekor anjing dibunuh dan dikonsumsi dagingnya di Bali.

“Dalam investigasi kami, 60 persen pelanggan adalah perempuan Bali. Mereka menganggap, daging anjing merupakan penghangat dan sumber protein yang tinggi. Mereka mempercayai jika daging anjing dapat menyembuhkan asma dan beberapa penyakit lainnya,” kata pendiri The Bali Animal Welfare, Janice Girardi, dikutip NYT (25/3/2017).

Setiap hari, diperkirakan ada sekitar 215 ekor anjing dibunuh untuk dikonsumsi di Yogyakarta. Bila dihitung setahun, jumlahnya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Bali.

Di Jakarta, di satu bisnis kuliner daging anjing milik Juniatur Silitonga yang sudah ada sejak 1975, membutuhkan sekitar 20 ekor anjing dalam satu minggu.

Melonjaknya permintaan daging anjing di beberapa kota Indonesia, terjadi justru di saat negara Asia lainnya mulai meninggalkan budaya makan daging anjing. Masyarakat internasional makin sadar kesehatan dan keramahan pada binatang peliharaan.

Laporan Change For Animal Foundation mengungkapkan bahwa konsumsi daging anjing, dan barang-barang yang disajikan dengan daging anjing, terkait dengan penyebaran kolera.

Perwakilan WHO di Vietnam, Jean-Marc Olive, memperingatkan bahwa makan daging anjing dapat meningkatkan 20 kali lipat pada risiko diare akut yang umumnya disebabkan oleh bakteri kolera.

Tak heran jika China atau Tiongkok merupakan negara yang memiliki tingkat insiden rabies terbesar kedua di dunia. Wabah rabies terbesar di Kota Yulin, Tiongkok, yang rutin menggelar festival makan daging termasuk anjing dalam jumlah sangat besar. Sampai-sampai ada petisi online yang menolak festival makan daging di Kota Yulin, tak diikuti sekitar kurang 3,8 juta orang.

Mengonsumsi daging anjing memang tidak langsung menyebabkan rabies. Tapi virus rabies menular melalui proses pemotongan dan pengolahan daging anjing yang belum divaksinasi.

Geneen Roth dalam bukunya yang berjudul ‘’Women Food and God An Unexpected Path to Almost Everything’’ (New York Time, 2010), memperingatkan dampak makanan terhadap karakter kepribadian manusia.

“To discover what You really believe, pay attention to the way You act — and to what You do when things don’t go the way You think they should. Pay attention to what You value. Pay attention to how and on what You spend your time. Your money. And pay attention to the way You eat,” tulisnya.

Peneliti Australia, Paul David Murray, pada 1998 melakukan riset sosial di Malang, Jawa Timur. Murray menginventaris sejumlah nama binatang yang digunakan sebagai kata umpatan manusia berikut alasannya. Misalnya: bunglon untuk orang yang pendiriannya tidak tetap, kera atau monyet untuk yang kurang ajar atau menjengkelkan, buaya untuk penipu ulung, kelelawar atau kalong untuk yang hobby begadang, kadal atau ular untuk yang licik, dan babi untuk orang yang sifatnya sangat menjengkelkan.

Nah, berdasarkan wawancara dengan sejumlah penduduk asli setempat, Murray mendapat keterangan bahwa nama-nama binatang itu digunakan untuk mengumpat manusia karena dianggap paralel sifat keduanya. Manusia dan binatang jelas berbeda derajatnya. Tapi seseorang akan dikatai sebagai binatang, “karena sifat atau tingkah lakunya keterlaluan, tidak pantas dilakukan manusia. Sifat atau tingkah laku tersebut lebih pantas dilakukan binatang.” Demikian penjelasan seorang warga yang menjadi responden Murray.

Menurut hasil penelitian, pemakan babi lama-lama akan ‘’mewarisi’’ sifat-sifat babi. Diantaranya, kehilangan decorum (rasa malu atau cemburu).

Pay attention to the way You eat, tidak asing bagi kaum muslimin. Mengonsumsi produk halal adalah harga mati buat umat Islam. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an Surat Al-Maidah ayat 88: ‘’Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya.’’

Hal tersebut dipertegas Rasulullah SAW yang berwasiat antara lain: ‘’Menuntut yang halal wajib atas setiap muslim’’ (HR Ibnu Mas’ud). II

Bowo